Asal Mula Kerajaan Sriwijaya

22 12 2009

Kerajaan Sriwijaya
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sriwijaya


600-an – 1300-an [[Kesultanan Malaka|→]]

Jangkauan terluas Imperium Sriwijaya sekitar abad ke-8 Masehi.
Ibu kota Palembang, Jambi
Bahasa Melayu Kuno, Sansekerta
Agama Buddha, Hindu
Pemerintahan Monarki
Maharaja
– 683 Jayanasa
– 775 Dharmasetu
– 792 Samaratungga
– 835 Balaputradewa
– 988 Sri Culamanivarmadeva
Sejarah
– Didirikan 600-an
– Invasi Majapahit 1300-an
Mata uang Koin emas dan perak
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia

Sejarah Nusantara
Pra-Kolonial (sebelum 1602)
Pra-sejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Islam
Zaman kolonial (1602-1945)
Era Portugis
Era VOC
Era Belanda
Era Jepang (1942-1945)
Sejarah Republik Indonesia
Proklamasi (17 Agustus 1945)
Masa Transisi
Era Orde Lama
Demokrasi Terpimpin
Operasi Trikora (1960-1962)
Konfrontasi Indo-Malaya (1962-1965)
Gerakan 30 September 1965
Era Orde Baru
Gerakan Mahasiswa 1998
Era Reformasi
[Sunting]
Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di Nusantara.[1] Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti “bercahaya” dan wijaya berarti “kemenangan”.[2] Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6 bulan.[3][4] Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683.[5] Pada abad ke-11 pengaruh Sriwijaya mulai menyusut. Hal ini dikarenakan serangan kerajaan Chola dan seringnya konflik dengan kerajaan-kerajaan Jawa, pertama dengan Singasari dan kemudian dengan Majapahit. Kerajaan ini mulai jatuh sekitar tahun 1300 karena berbagai faktor, antara lain munculnya negara-negara Islam di utara Sumatra serta ekspansi kerajaan Majapahit.[1] Di akhir masa, pusat kerajaan berpindah dari Palembang ke Jambi.
Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George Coedès dari École française d’Extrême-Orient.[2] Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia).[2]
Daftar isi [sembunyikan]
1 Historiografi
1.1 Berbahasa Sanskerta atau Tamil
1.2 Sumber berita Tiongkok
1.3 Prasasti berbahasa Melayu Kuno
2 Pembentukan dan pertumbuhan
3 Budha Vajrayana
4 Relasi dengan kekuatan regional
5 Masa keemasan
6 Penurunan
7 Perdagangan
8 Pengaruh budaya
9 Pengaruh Islam
10 Raja yang memerintah
11 Catatan kaki
12 Referensi
12.1 Pranala luar
[sunting]Historiografi

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia.[6] Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap “Sanfoqi”, sebelumnya dibaca “Sribhoja”, dan prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.[7]
Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatra awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.[6]
Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Sanfotsi atau San Fo Qi.[8][9] Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh.[8] Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu.[8] Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.[8][10]
Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang diketahui berkaitan dengan Sriwijaya:
[sunting]Berbahasa Sanskerta atau Tamil
– Prasasti Ligor di Thailand
– Prasasti Kanton di Kanton
– Prasasti Siwagraha
– Prasasti Nalanda di India
– Piagam Leiden di India
– Prasasti Tanjor
– Piagam Grahi
– Prasasti Padang Roco
– Prasasti Srilangka
[sunting]Sumber berita Tiongkok
– Kronik dari Dinasti Tang
– Kronik Dinasti Sung
– Kronik Dinasti Ming
– Kronik Perjalanan I Tsing
– Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
– Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
– Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
– Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan
[sunting]Prasasti berbahasa Melayu Kuno
– Prasasti Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang
– Prasasti Talang Tuo tanggal 23 Maret 684 Masehi di Palembang
– Prasasti Telaga Batu abad ke-7 Masehi di Palembang
– Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi di Lampung Selatan
– Prasasti Karang Brahi abad ke-7 Masehi di Jambi
– Prasasti Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi di P. Bangka
– Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah
[sunting]Pembentukan dan pertumbuhan

Peta pengaruh Sriwijaya di abad ke-10
Tidak banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan.[11] Menurut Prasasti Kedukan Bukit, kekaisaran Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Çri Yacanaca (Dapunta Hyang Sri Jayanasa). Ia memimpin 20.000 tentara (terutama tentara darat dan beberapa ratus kapal) dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu. Menurut sebagian sejarawan, Minanga Tamwan merujuk pada daerah di sekitar hulu sungai Kampar di Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang. Tambo Minangkabau mencatat bahwa keluarga Dapunta Hyang turun dari gunung Marapi ke hulu sungai Kampar, yang kemudian keturunannya meluaskan rantau ke selatan Sumatra.[12]
Kerajaan ini adalah pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang, Sumatra. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama – daerah ibukota muara yang berpusatkan Palembang, lembah Sungai Musi yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok.[13] Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.

Candi Gumpung, candi Buddha di Muaro Jambi, Kerajaan Melayu yang ditaklukkan Sriwijaya.

Reruntuhan candi Wat Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya, Thailand Selatan.
Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, Kerajaan Malayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Malayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. [14]. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Melayu-Budha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana. [15]. Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. [16]. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
Ekspansi kerajaan ke Jawa dan semenanjung Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang.[15] Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.[17]
Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825.[18]
Di abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina.[19] Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.[1]
[sunting]Budha Vajrayana

Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Ching, yang melakukan kunjungan ke Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India pada tahun 671 dan 695, serta di abad ke-11, Atisha, seorang sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana di Tibet. I Ching melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan.
[sunting]Relasi dengan kekuatan regional

Pagoda Borom That bergaya Sriwijaya di Chaiya, Thailand.
Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, dinyatakan bahwa pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatra, Jawa, semenanjung Melayu, Kamboja, dan Vietnam Selatan.[20] Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India.
Kerajaan Malayu merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang akhirnya dapat ditaklukkan pada abad ke-7. Di kerajaan Malayu, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi cukup penting dan kata Suwarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Nusantara.
Pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand sebagai ibu kota terakhir kerajaan, walaupun klaim tersebut tak mendasar. Pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom.
Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada Universitas Nalada, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India selatan cukup baik dan menjadi buruk setelah terjadi penyerangan di abad ke-11.


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: